Januari 28, 2026

JAKARTA – Mata uang Garuda menunjukkan tajinya pada pembukaan perdagangan di pasar spot, Kamis pagi (22/1/2026). Setelah sempat dihantui tren pelemahan yang cukup dalam sejak awal tahun, Rupiah akhirnya terpantau menguat tipis terhadap Dollar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.42 WIB, kurs Rupiah berada di level Rp 16.900 per Dollar AS. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 0,21 persen dari posisi penutupan hari sebelumnya yang bertengger di level Rp 16.933. Meski terlihat kecil, penguatan ini merupakan sinyal positif bagi pasar yang belakangan ini merasa cemas akibat bayang-bayang angka psikologis Rp 17.000.

Sentimen Global: Trump, Greenland, dan Tarikan Napas Eropa

Pemicu utama penguatan hari ini datang dari panggung internasional. Presiden AS, Donald Trump, secara mengejutkan memutuskan untuk menarik kembali ancaman penerapan tarif impor besar-besaran terhadap negara-negara Eropa. Sebelumnya, ancaman tarif hingga 25 persen sempat dilemparkan sebagai bagian dari manuver politik AS terkait isu kepemilikan Greenland.

Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa langkah Trump ini meredam ketegangan transatlantik yang sempat memicu ketidakpastian tinggi.

“Meredanya tensi antara AS dan Eropa memberikan efek deeskalasi pada pasar global. Sentimen risk-on kembali muncul, mendorong investor untuk melirik kembali aset-aset di pasar berkembang (emerging markets), termasuk Rupiah,” papar Lukman.

Kabar ini juga memberikan napas lega bagi mata uang di kawasan Asia. Meski bergerak bervariasi, beberapa mata uang utama menunjukkan penguatan:

Sebaliknya, Yen Jepang dan Baht Thailand masih mengalami koreksi masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,25 persen karena faktor internal negara tersebut.

Baca Juga

Rupiah di Titik Nadir: Menembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Akankah Tembok Rp 17.000 Jebol?


Dilema Domestik: Mengapa Penguatan Rupiah Masih “Malu-malu”?

Walaupun faktor global mendukung, penguatan Rupiah diyakini tidak akan melaju kencang. Ada “tembok” besar dari dalam negeri yang menahan laju apresiasi mata uang kita.

Para analis mencermati tiga isu krusial yang membuat pelaku pasar bersikap waspada (wait and see):

1. Isu Independensi Bank Indonesia (BI)

Pasar tengah menyoroti isu tata kelola di bank sentral. Adanya wacana “tukar guling” jabatan atau penempatan figur yang dianggap terlalu dekat dengan lingkaran politik tertentu memicu kekhawatiran akan independensi kebijakan moneter. Investor sangat sensitif terhadap isu ini; jika bank sentral dianggap tidak independen, kredibilitas dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar akan dipertanyakan.

2. Pelebaran Defisit Anggaran

Proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 juga menjadi beban. Muncul kekhawatiran bahwa defisit anggaran akan melebar melebihi batas aman 3 persen terhadap PDB akibat lonjakan belanja pemerintah. Defisit yang besar biasanya akan meningkatkan kebutuhan akan pembiayaan melalui utang, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar jika tidak dikelola dengan hati-hati.

3. Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga (BI-Rate)

Terdapat ekspektasi kuat di pasar bahwa Bank Indonesia akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya dengan memangkas suku bunga acuan. Secara teori, penurunan suku bunga dapat mengurangi daya tarik aset berdenominasi Rupiah bagi investor asing karena imbal hasil (yield) yang menurun, sehingga menghambat penguatan mata uang.


Proyeksi: Fluktuasi di Ambang Batas Psikologis

Dengan kombinasi sentimen global yang membaik namun fundamental domestik yang masih rapuh, Rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif sepanjang hari ini.

Lukman Leong memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda akan berada dalam rentang Rp 16.850 hingga Rp 17.000 per Dollar AS. Level Rp 17.000 menjadi batas krusial yang terus dipantau. Jika tertembus, dikhawatirkan akan terjadi fenomena imported inflation, di mana harga barang-barang impor (seperti bahan baku industri dan pangan) akan melonjak dan menekan daya beli masyarakat luas.

Para pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada dan melakukan lindung nilai (hedging) guna meminimalisir risiko kerugian akibat volatilitas kurs yang masih tidak menentu. Pemerintah pun diharapkan memberikan kepastian kebijakan fiskal yang sehat guna membangun kembali kepercayaan pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *