Januari 15, 2026

TURIN – Allianz Stadium menjadi saksi bisu keperkasaan Juventus saat menjamu tim kuda hitam Cremonese dalam lanjutan pekan ke-20 Liga Italia Serie A 2025/2026, Selasa (13/1/2026) dini hari WIB. Skuad asuhan Luciano Spalletti tampil tanpa ampun dengan menyarangkan lima gol tanpa balas, sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi tujuh pertandingan beruntun.

Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa “Si Nyonya Tua” telah kembali ke jalur persaingan Scudetto. Dengan hasil ini, Juventus meroket ke peringkat tiga klasemen sementara dengan koleksi 39 poin, mengungguli Napoli dan AS Roma dalam persaingan zona Liga Champions yang sangat ketat.

Babak Pertama: Badai Serangan Si Nyonya Tua

Juventus memulai laga dengan intensitas tinggi sejak peluit pertama dibunyikan. Spalletti tampak menginstruksikan anak asuhnya untuk melakukan high-pressing guna mematikan kreativitas lini tengah Cremonese yang dikawal oleh Filippo Terracciano.

Kebuntuan pecah lebih cepat dari dugaan pada menit ke-12. Berawal dari skema sepak pojok yang dibuang tidak sempurna oleh lini belakang tamu, Fabio Miretti melepaskan tembakan voli spekulasi dari jarak jauh. Bola yang meluncur deras tersebut secara tak sengaja mengenai kepala Bremer yang berdiri di area penalti. Defleksi tersebut membuat arah bola berbelok tajam ke sudut kanan gawang, memicu kegagalan antisipasi dari kiper naturalisasi Indonesia, Emil Audero. 1-0 untuk Juventus.

Hanya berselang tiga menit, guncangan kedua kembali menghantam pertahanan tim asuhan Davide Ballardini. Melalui skema serangan balik kilat yang diprakarsai oleh Khephren Thuram, bola dialirkan dengan presisi ke kaki Jonathan David. Striker yang sedang dalam performa panas ini menunjukkan ketenangannya dengan melewati bek lawan sebelum menaklukkan Audero dalam situasi satu lawan satu.

Mimpi buruk babak pertama Cremonese memuncak di menit ke-35. Federico Baschirotto dianggap melakukan pelanggaran handball saat mencoba memblok sepakan keras Thuram di kotak terlarang. Kenan Yildiz maju sebagai eksekutor. Meski Audero sempat menepis bola ke tiang gawang dengan heroik, Yildiz bergerak lebih cepat daripada barisan pertahanan lawan untuk menyambar bola rebound menjadi gol ketiga.

Baca Juga:

Drama di Giuseppe Meazza: Brace McTominay Gagalkan Kemenangan Inter Milan

Babak Kedua: Pesta Gol dan Dominasi Total

Memasuki babak kedua, Juventus tidak mengendurkan serangan meskipun sudah unggul tiga bola. Hanya tiga menit setelah laga kembali dimulai (menit 48), Weston McKennie mencatatkan namanya di papan skor. Gelandang asal Amerika Serikat tersebut melakukan pergerakan cerdik menyambut umpan terobosan Miretti, mengecoh Audero yang keluar dari sarangnya, dan menceploskan bola ke gawang yang melompong.

Petaka bagi Cremonese berlanjut melalui insiden gol bunuh diri yang sangat tragis. Berawal dari kemelut di depan gawang, Matteo Bianchetti sebenarnya melakukan aksi heroik dengan menyapu bola tepat di garis gawang. Namun, bola justru membentur tubuh rekannya sendiri, Filippo Terracciano, dan memantul kembali masuk ke gawang sendiri. Gol kelima ini seolah meruntuhkan sisa-sisa mentalitas para pemain Cremonese.

Pesta gol ditutup pada menit ke-64 lewat aksi kedua McKennie. Memanfaatkan umpan silang akurat dari Pierre Kalulu yang merangsek naik dari posisi bek sayap, McKennie memenangi duel udara dan melepaskan tandukan tajam yang bersarang di sudut kiri gawang Audero. Skor 5-0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Analisis Taktis dan Dampak Klasemen

Kemenangan Juventus kali ini menyoroti keberhasilan taktik Luciano Spalletti dalam memadukan kekuatan fisik di lini tengah dengan kecepatan transisi. Keberadaan Khephren Thuram menjadi kunci; ia tidak hanya memutus serangan lawan, tetapi juga berperan sebagai jembatan bagi Jonathan David dan Kenan Yildiz.

Bagi Cremonese, kekalahan telak ini memperpanjang tren negatif mereka menjadi enam laga tanpa kemenangan. Tercecer di peringkat 13 dengan 22 poin, tim ini harus segera berbenah jika tidak ingin terseret ke zona merah. Sosok Emil Audero di bawah mistar gawang sebenarnya tampil tidak buruk dengan beberapa penyelamatan krusial, namun rapuhnya lini belakang membuat ia tak berdaya menghadapi hujan tembakan dari pemain Juventus

Dengan kompetisi yang baru saja memasuki putaran kedua (pekan ke-20), Juventus kini hanya berjarak beberapa poin dari puncak klasemen. Konsistensi dalam tujuh laga terakhir membuktikan bahwa masa transisi di bawah Spalletti telah selesai, dan mereka kini siap bertarung habis-habisan di paruh kedua musim 2025/2026.

Malam di Turin ini bukan sekadar perayaan gol, melainkan bukti kembalinya identitas Juventus sebagai tim yang mendominasi dan mematikan di kandang sendiri. Para penggemar kini menantikan apakah tren positif ini bisa terus berlanjut saat mereka menghadapi tantangan yang lebih berat di pekan-pekan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *