MANCHESTER – Sepak bola selalu punya cara untuk menertawakan prediksi di atas kertas. Di Etihad Stadium, Senin (5/1/2026) dini hari WIB, sebuah narasi “Daud melawan Goliat” modern tersaji saat Manchester City, sang raksasa penguasa Premier League, dipaksa berbagi angka 1-1 oleh Chelsea yang tengah dilanda prahara internal.

Pertandingan ini bukan sekadar perebutan poin, melainkan panggung bagi Calum McFarlane, pria berusia 40 tahun yang mendadak “naik kelas” dari tim U-21 Chelsea. Tanpa pengalaman di level senior, ia harus beradu taktik dengan Pep Guardiola, sang maestro yang telah melampaui seribu laga kompetisi elit. Namun, apa yang terjadi di lapangan justru menjungkirbalikkan logika.

Krisis London Barat dan Kemunculan Pahlawan Tak Terduga

Chelsea datang ke Manchester dengan awan mendung menyelimuti Stamford Bridge. Kepergian Enzo Maresca—manajer yang baru saja mempersembahkan trofi UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub—meninggalkan luka bagi fans. Perseteruan Maresca dengan petinggi klub terkait kebijakan transfer menjadi bom waktu yang meledak tepat sebelum laga krusial melawan City.

Di tengah ketidakpastian itu, nama Calum McFarlane muncul. Tugasnya berat: memimpin tim peringkat kedua klasemen sementara melawan juara bertahan di kandangnya sendiri. Banyak pengamat memprediksi Chelsea akan menjadi “bulan-bulanan” City yang haus kemenangan. Namun, McFarlane membawa semangat baru yang lebih pragmatis dan disiplin.

Taktik Disiplin: Tembok Tebal Badiashile dan Chalobah

Sejak peluit pertama dibunyikan, City langsung mendominasi. Dengan penguasaan bola mencapai 57,8 persen, pasukan Pep Guardiola terus membombardir pertahanan The Blues. Tijjani Reijnders, gelandang City yang tengah dalam performa puncaknya, berhasil memecah kebuntuan dan membawa tuan rumah unggul lebih dulu. Stadion Etihad bergemuruh, seolah kemenangan sudah di depan mata.

Namun, di sinilah kejutan dimulai. Alih-alih runtuh setelah tertinggal, Chelsea di bawah McFarlane justru menunjukkan ketenangan luar biasa. Duet bek Benoit Badiashile dan Trevoh Chalobah, yang selama ini sering dikritik karena kerap kecolongan oleh penyerang cepat, tampil bak pahlawan. Keduanya melakukan blok-blok krusial dan intersep cerdas yang membuat Erling Haaland dan kolega tampak kehabisan akal.

Dari 14 tembakan yang dilepaskan City, hanya 3 yang benar-benar mengarah ke gawang. Ini adalah bukti betapa efektifnya skema bertahan yang diterapkan McFarlane dalam debutnya di level tertinggi.

Baca Juga:

Drama Menit Akhir di Craven Cottage: Roket Harrison Reed Batalkan Kemenangan Liverpool

Mentalitas Pantang Menyerah dan Gol Telat Enzo Fernandez

Memasuki babak kedua, Pep Guardiola mengakui adanya pergeseran momentum. City yang gagal mencetak gol kedua mulai terlihat cemas. “Kami luar biasa di semua lini, kecuali satu hal: kami tidak bisa mencetak gol kedua, ketiga, atau keempat,” ujar Guardiola dengan nada kecewa di situs resmi klub.

Sebaliknya, Chelsea mulai berani keluar menyerang. Cole Palmer menjadi motor penggerak serangan balik yang sangat efektif. Meski hanya memiliki 42,2 persen penguasaan bola, setiap serangan Chelsea terasa lebih menusuk.

Drama mencapai puncaknya di masa injury time. Saat pendukung City bersiap merayakan kemenangan tipis, sebuah skema serangan balik cepat berakhir di kaki Enzo Fernandez. Dengan ketenangan luar biasa, gelandang asal Argentina itu menaklukkan kiper City, memastikan skor berubah menjadi 1-1. Gol ini bukan hanya tentang satu poin, tapi tentang martabat sebuah tim yang dianggap remeh.

Pengakuan Jujur Pep Guardiola

Usai laga, Guardiola tidak segan memuji perubahan permainan Chelsea di babak kedua. Ia menyoroti bagaimana tim tamu bermain tanpa beban setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dipertaruhkan.

“Di babak kedua mereka meningkatkan permainannya. Di babak pertama mereka sedikit lebih hati-hati, dan kemudian tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, dan akhirnya mereka mendapatkan imbalannya,” kata manajer asal Spanyol tersebut. Pep juga menyesali hilangnya konsentrasi pemainnya dalam situasi transisi dua lawan satu dan tiga lawan dua yang gagal dimaksimalkan menjadi gol.

Akhir Perjalanan Singkat McFarlane?

Meskipun sukses memberikan performa gemilang, masa depan Calum McFarlane di kursi kepelatihan utama Chelsea diprediksi tidak akan lama. Laporan internal menyebutkan bahwa petinggi klub sudah mencapai kesepakatan lisan dengan Liam Rosenior.

Rosenior, yang saat ini menakhodai Strasbourg, dipandang sebagai sosok permanen yang tepat untuk meneruskan pondasi yang ditinggalkan Maresca. Namun, satu hal yang pasti: nama Calum McFarlane akan selalu diingat oleh pendukung Chelsea sebagai pelatih interim yang mampu menahan imbang kejeniusan Pep Guardiola di kandangnya sendiri, tepat saat klub berada di titik terendah.

Hasil imbang ini membuat persaingan di papan atas Liga Inggris semakin memanas. Manchester City gagal memperlebar jarak, sementara Chelsea membuktikan bahwa meski tanpa manajer permanen, mereka tetaplah kekuatan yang patut disegani di tanah Inggris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *