Januari 28, 2026

Pasar finansial global mengawali pekan ketiga Januari 2026 dengan guncangan hebat. Instrumen investasi aman (safe haven), emas dan perak, kembali mencatatkan reli kenaikan harga yang signifikan pada perdagangan Senin (19/1/2026). Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menghidupkan kembali rencana kontroversialnya untuk menguasai Greenland.

Bagi para investor, manuver luar negeri Gedung Putih ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal ketidakpastian besar yang mengancam stabilitas tatanan dunia. Akibatnya, arus modal keluar secara masif dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke logam mulia.

Emas dan Perak: Rekor yang Terus Terpecahkan

Berdasarkan data yang dihimpun dari CNBC, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari 2026 melonjak 1,71 persen ke level 4.674,2 dollar AS per ons. Angka ini melampaui rekor tertinggi yang baru saja dicetak minggu lalu di posisi 4.668,14 dollar AS.

Tidak hanya emas, perak pun ikut berdansa di zona hijau. Meski pergerakannya cenderung fluktuatif, harga perak spot sempat meroket 3,55 persen hingga menyentuh level 93,16 dollar AS per ons. Fenomena ini mempertegas bahwa investor saat ini sedang dalam mode “bertahan” total menghadapi potensi konflik internasional.

George Cheveley, Manajer Portofolio SDM di Ninety One, menjelaskan bahwa reli harga emas kali ini didorong oleh fundamental yang sangat kuat. Selain isu Greenland, kebijakan perdagangan luar negeri AS yang semakin agresif menjadi motor utama. Trump dikabarkan telah menyiapkan kenaikan tarif impor terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran akan pecahnya perang dagang transatlantik yang lebih luas.

“Pasar sedang mencerna kombinasi dari penurunan suku bunga riil dan ambisi diversifikasi cadangan devisa oleh bank-bank sentral dunia. Kami melihat lebih banyak alasan bagi emas untuk berkonsolidasi atau merangkak naik daripada mengalami koreksi tajam,” ujar Cheveley dalam catatannya.

Bahkan, Cheveley memberikan prediksi yang cukup berani: harga emas tahun ini diperkirakan bisa melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan level rata-rata pada tahun 2024. Prediksi ini mencerminkan betapa tingginya premi risiko yang dibebankan pasar terhadap kondisi dunia saat ini.

Baca Juga

Kilau Emas Antam Terus Menanjak Di Tahun2026

Sentimen Minyak dan Intervensi Militer

Kegaduhan terkait Greenland hanyalah satu bab dari rentetan kebijakan agresif AS di awal tahun 2026. Pasar global masih belum pulih dari guncangan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pihak keamanan AS pada 3 Januari 2026. Langkah ekstrim ini diyakini berkaitan erat dengan ambisi Trump untuk mengendalikan industri minyak di Amerika Selatan secara langsung.

Ketegangan tidak berhenti di sana. Isyarat serangan militer terhadap Iran setelah pecahnya kerusuhan domestik di Teheran semakin memperkeruh suasana. Investor kini melihat peta dunia sebagai ladang ranjau diplomatik, di mana kebijakan luar negeri AS lebih condong pada pendekatan militeristik dan penguasaan sumber daya alam secara langsung.

Dampaknya Terhadap Pasar Saham Dunia

Sentimen negatif ini langsung memukul bursa saham di berbagai belahan dunia. Pasar saham Eropa dan Asia-Pasifik kompak memerah pada pembukaan pekan ini. Di Eropa, produsen mobil raksasa dan perusahaan barang mewah menjadi korban paling terdampak. Ancaman tarif baru dari Washington membuat investor khawatir akan margin keuntungan perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada pasar ekspor ke Amerika tersebut.

“Emas dan perak akan selalu berkinerja baik di tengah periode ketidakpastian yang meningkat. Ketika aset berisiko seperti saham kehilangan daya tariknya karena ancaman geopolitik, logam mulia menjadi satu-satunya tempat berlindung yang logis,” tambah Cheveley.

Memasuki pertengahan Januari 2026, wajah ekonomi global kini sangat bergantung pada langkah-langkah selanjutnya dari Gedung Putih. Apakah isu Greenland hanya gertakan politik atau langkah awal aneksasi teritorial baru, dampaknya sudah nyata terasa di dompet para investor.

Dengan suku bunga yang diprediksi akan terus melandai dan konflik geopolitik yang makin meruncing di Venezuela serta Iran, emas nampaknya akan tetap memegang mahkotanya sebagai aset terkuat tahun ini. Bagi pelaku pasar, strategi “beli dan simpan” untuk logam mulia bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk melindungi nilai kekayaan dari badai ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *