Januari 15, 2026

JAKARTA – Pasar logam mulia sedang berada dalam fase euforia luar biasa. Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), harga emas dan perak dunia kompak mencatatkan lonjakan signifikan yang berdampak langsung pada meroketnya harga ritel di dalam negeri. Fenomena ini menciptakan gelombang baru minat investasi di sektor aset aman (safe haven) di awal tahun 2026.

Kenaikan serentak ini dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar, memperkuat spekulasi mengenai perubahan arah kebijakan moneter bank sentral paling berpengaruh di dunia, Federal Reserve (The Fed).

Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di Pasar Global

Di pasar spot internasional, harga emas tidak hanya naik, tetapi juga mengukir sejarah baru. Logam kuning tersebut sempat menyentuh level psikologis yang sebelumnya dianggap sulit dicapai, yakni 4.639 dollar AS per troy ounce. Meskipun terjadi aksi ambil untung tipis, harga berhasil stabil di kisaran 4.630 dollar AS, menandakan fondasi yang kuat bagi tren bullish emas di tahun ini.

Namun, panggung utama sebenarnya dicuri oleh perak. Logam mulia yang sering dijuluki “emas orang miskin” ini justru menunjukkan performa yang jauh lebih agresif. Perak berhasil menembus level psikologis 90 dollar AS per ounce, bahkan sempat menyentuh angka 91 dollar AS dalam perdagangan intraday. Lonjakan perak yang lebih tajam dibandingkan emas menunjukkan adanya permintaan industri yang tinggi sekaligus minat spekulatif yang masif dari para investor global.

Guncangan Harga Lokal: Antam Cetak Rekor

Efek domino dari pasar global langsung terasa di pasar domestik Indonesia. PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan harga yang cukup dramatis hari ini.

  1. Emas Antam: Harga emas batangan Antam hari ini melonjak Rp 13.000, membawanya ke level Rp 2.665.000 per gram. Angka ini resmi menjadi rekor tertinggi sepanjang masa untuk harga emas di Indonesia. Penguatan ini tidak hanya dipicu oleh harga spot dunia, tetapi juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih sangat sensitif terhadap dinamika dollar AS.
  2. Perak Antam: Tidak mau kalah, harga perak produksi Antam juga merangkak naik signifikan. Berdasarkan data terbaru, harga dasar perak Antam berada di kisaran Rp 54.900 per gram. Kenaikan ini menarik perhatian banyak investor ritel yang mulai melirik perak sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau namun memiliki potensi keuntungan persentase yang lebih tinggi.

Baca Juga:

Sinyal Bullish 2026: IHSG Tembus Rekor Psikologis di Tengah Gairah Investasi yang Meledak

Analisis Mendalam: Mengapa Logam Mulia Terbang Hari Ini?

Ada tiga pilar utama yang menjadi motor penggerak kenaikan gila-gilaan harga logam mulia pada pertengahan Januari 2026 ini:

1. Jinaknya Inflasi AS dan “Pivot” Federal Reserve

Data Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen AS yang dirilis menunjukkan angka yang sangat menggembirakan bagi pasar. Inflasi inti tahunan AS tercatat di angka 2,6 persen, lebih rendah dari prediksi konsensus para ekonom.

Angka ini menjadi sinyal kuat bagi The Fed bahwa kebijakan suku bunga tinggi yang selama ini diterapkan sudah cukup untuk mengerem laju ekonomi. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga atau pivot kebijakan moneter pun menguat. Bagi emas dan perak, penurunan suku bunga adalah “bahan bakar” utama. Karena kedua logam ini tidak menghasilkan bunga (non-yielding), penurunan suku bunga membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang emas menjadi lebih murah dibandingkan menyimpan uang di deposito atau obligasi pemerintah.

2. Melemahnya Indeks Dollar AS

Seiring dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, daya tarik dollar AS di mata investor global pun meredup. Karena emas dan perak dipatok dalam satuan dollar, pelemahan mata uang “Greenback” secara otomatis membuat harga logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Hal ini memicu gelombang pembelian besar-besaran dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari bank-bank sentral di Asia dan Eropa.

3. Tensi Geopolitik yang Belum Padam

Memasuki tahun 2026, ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor pendukung yang konsisten. Konflik yang berlarut-larut di beberapa titik panas dunia membuat para manajer investasi enggan menaruh seluruh modal mereka pada aset berisiko seperti saham. Emas tetap menjadi pelabuhan terakhir yang paling aman ketika dunia diliputi ketidakpastian politik dan ekonomi.

Pandangan Ke Depan: Apakah Tren Ini Akan Berlanjut?

Para analis komoditas memprediksi bahwa level 4.600 dollar AS per troy ounce kini menjadi titik tumpu baru bagi emas. Jika inflasi terus mereda dan The Fed benar-benar memangkas suku bunga di kuartal pertama tahun ini, bukan tidak mungkin emas akan menguji level 5.000 dollar AS sebelum akhir tahun.

Bagi investor di Indonesia, kenaikan harga emas Antam ke level Rp 2,6 juta per gram merupakan sinyal bahwa emas tetap menjadi instrumen lindung nilai (hedging) yang paling mumpuni terhadap inflasi dan depresiasi mata uang. Meski harga sudah berada di level tertinggi, strategi dollar cost averaging atau menabung rutin tetap disarankan oleh para ahli keuangan guna mengantisipasi volatilitas jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *