
JAKARTA – Panggung megah King Saud University Stadium, Riyadh, Arab Saudi, bersiap menjadi saksi bisu bentrokan dua kutub sepak bola ibu kota Spanyol. Pada Jumat (9/1/2026) dini hari WIB, Real Madrid dan Atletico Madrid akan saling jegal dalam babak semifinal Piala Super Spanyol (Supercopa de España). Ini bukan sekadar laga perebutan tiket final, melainkan pertaruhan gengsi, ideologi kepelatihan, dan harga diri di tanah rantaun.
Era Baru Real Madrid di Bawah Xabi Alonso
Sorotan utama dalam laga ini tertuju pada sosok di pinggir lapangan Los Blancos, Xabi Alonso. Sejak mengambil alih kursi kepelatihan Real Madrid, Alonso telah menyuntikkan filosofi permainan yang lebih modern, cair, dan dominan. Piala Super Spanyol 2026 ini menjadi kesempatan emas pertama bagi sang maestro taktik untuk mempersembahkan trofi perdana ke lemari juara di Santiago Bernabeu.
Bagi Alonso, menghadapi Atletico Madrid adalah ujian kedewasaan taktis. Ia tidak hanya dituntut untuk menang, tetapi juga untuk membuktikan bahwa skema ofensifnya mampu membongkar pertahanan berlapis yang menjadi ciri khas lawan. Dukungan pemain kunci seperti Jude Bellingham dan kecepatan Vinicius Jr. akan menjadi senjata utama Madrid untuk mengurung pertahanan Los Colchoneros sejak menit awal.
Simeone dan Seni Perlawanan “El Cholo”
Di seberang lapangan, Diego “El Cholo” Simeone tetap menjadi sosok yang paling diwaspadai. Pelatih kawakan ini sudah kenyang makan asam garam Derby Madrid. Meskipun Real Madrid lebih diunggulkan secara materi pemain dan posisi di klasemen, Atletico Madrid asuhan Simeone dikenal sebagai tim yang paling senang merusak pesta rival sekotanya.
Simeone diprediksi akan kembali menerapkan skema “pertahanan grendel” yang disiplin, sembari mengandalkan transisi cepat yang mematikan. Baginya, bermain di Arab Saudi tidak mengubah esensi permainan Atletico: fisik, provokatif, dan sangat efektif. Kehadiran Antoine Griezmann sebagai jenderal lapangan tengah sekaligus penyelesai peluang akan menjadi tumpuan Atletico untuk mengejutkan lini belakang Real Madrid yang kerap naik terlalu tinggi.
Baca Juga:
Misi Pertahankan Gelar: Barcelona Hadapi Athletic Bilbao di Semifinal Piala Super
Jaminan Panas dan Banjir Kartu
Sejarah mencatat bahwa El Derbi Madrileño tidak pernah berjalan “dingin”. Atmosfer panas selalu mengikuti ke mana pun laga ini digelar. Meskipun dimainkan ribuan kilometer dari Madrid, tensi tinggi dipastikan tetap terbawa ke Riyadh. Gesekan antarpemain, protes keras terhadap wasit, hingga adu fisik di area kotak penalti adalah bumbu yang hampir pasti tersaji.
Wasit yang memimpin laga ini diprediksi akan bekerja ekstra keras. Statistik dalam beberapa pertemuan terakhir menunjukkan rata-rata kartu kuning yang keluar mencapai 5 hingga 7 per pertandingan. Bagi para penggemar taruhan bola dan pengamat, “hujan kartu” adalah salah satu elemen yang paling dinanti dari duel dua raksasa ini.
Dominasi Sejarah dan Rekor Pertemuan
Melihat catatan sejarah, Real Madrid memang masih memegang kendali atas rival sekotanya tersebut. Berikut adalah statistik head-to-head sepanjang masa kedua tim:
| Statistik Derby Madrid | Jumlah |
| Total Pertemuan | 241 |
| Kemenangan Real Madrid | 123 |
| Kemenangan Atletico Madrid | 60 |
| Hasil Imbang | 58 |
Meskipun unggul jauh secara historis, Real Madrid tidak boleh jemawa. Dalam kompetisi dengan sistem gugur seperti Piala Super Spanyol, statistik seringkali menjadi tidak relevan di depan semangat juang 90 menit (atau bahkan 120 menit).
Bayang-Bayang Barcelona di Partai Puncak
Siapa pun yang memenangkan laga ini sudah ditunggu oleh ancaman nyata di partai final: Barcelona. Tim asuhan Hansi Flick baru saja mengirimkan pesan peringatan yang sangat mengerikan bagi siapa pun lawan mereka di final nanti.
Barcelona melaju ke partai puncak setelah “menghancurkan” Athletic Bilbao dengan skor mencolok 5-0. Penampilan beringas Robert Lewandowski dan kolega menunjukkan bahwa Blaugrana sedang berada di puncak performa. Jika Real Madrid menang, maka dunia akan menyaksikan El Clasico di final yang selalu menjadi magnet penonton global. Namun, jika Atletico yang lolos, mereka harus membuktikan bahwa pertahanan mereka cukup kokoh untuk menahan gempuran serangan Flick yang sangat agresif.
Laga ini diprediksi akan berjalan dengan penguasaan bola yang didominasi oleh Real Madrid. Xabi Alonso akan menginstruksikan anak asuhnya untuk menekan sejak garis depan. Sebaliknya, Atletico akan membiarkan Madrid menguasai bola, sembari menunggu kesalahan sekecil apa pun untuk melakukan serangan balik kilat lewat sisi sayap.
Pertarungan di lini tengah antara Eduardo Camavinga melawan Koke akan menjadi kunci siapa yang mampu mengatur tempo permainan. Jika Madrid gagal mencetak gol di babak pertama, tekanan akan berpindah ke pundak mereka, dan itulah saat di mana Atletico biasanya tampil paling berbahaya.
Apakah kita akan melihat trofi pertama Xabi Alonso bersama Si Putih? Ataukah Diego Simeone kembali membuktikan bahwa taktik pragmatis masih menjadi raja di turnamen singkat seperti ini? Semuanya akan terjawab di King Saud University Stadium.