Januari 10, 2026

Kota Manchester sering kali dikenal dengan langitnya yang abu-abu, namun bagi Ruben Amorim, Senin pagi (5/1/2026) terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Hanya berselang 14 bulan setelah kedatangannya yang penuh gegap gempita dari Sporting Lisbon, pria asal Portugal itu harus mengepak kopernya lebih awal. Manchester United resmi memutus kontrak sang manajer, mengakhiri sebuah proyek yang awalnya digadang-gadang akan mengembalikan kejayaan “Setan Merah.”

Keputusan ini diambil secara kilat oleh jajaran petinggi klub dalam rapat darurat Senin pagi. Tak butuh waktu lama bagi surat pemecatan itu untuk sampai ke tangan Amorim, menandai berakhirnya masa bakti yang hanya bertahan selama 63 pertandingan.

Kepergian yang Elegan di Tengah Badai

Meski kariernya di Old Trafford berakhir pahit, Ruben Amorim menunjukkan kelasnya saat meninggalkan kediamannya di kawasan elit Cheshire. Alih-alih bersembunyi di balik kaca gelap mobil atau menunjukkan raut wajah frustrasi, Amorim justru menyapa kerumunan fotografer yang telah mengepung rumahnya sejak berita pemecatan tersebut pecah.

Dilansir oleh berbagai sumber media Inggris termasuk The Sun, Amorim terlihat sangat tenang. Dengan setelan kasual, ia terlihat membantu keluarganya memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Menariknya, tidak ada ketegangan yang terpancar. Ia justru menebar senyum lebar, seolah-olah beban berat yang selama setahun terakhir dipikulnya telah terangkat.

Beberapa fotografer bahkan sempat mendapatkan jabat tangan hangat dari sang pelatih. Tanpa sepatah kata pun mengenai alasan pemecatannya atau rasa kecewa terhadap manajemen, Amorim memilih bungkam secara verbal namun berbicara banyak melalui bahasa tubuhnya: ia pergi dengan kepala tegak.

Baca Juga:

Tembok Kokoh “Bang Jay”: Jay Idzes Tampil Spartan 90 Menit

Statistik yang Menghakimi

Mengapa pelatih berbakat seperti Amorim gagal bertahan lebih lama? Jika kita menilik data selama 14 bulan kepemimpinannya, inkonsistensi menjadi musuh utama. Dari 63 laga yang dijalani, Manchester United gagal menunjukkan dominasi yang diharapkan di Premier League. Meskipun sempat memberikan secercah harapan dengan taktik tiga bek khasnya, badai cedera dan sulitnya adaptasi beberapa pemain kunci membuat performa tim merosot tajam memasuki periode musim dingin 2025/2026.

Pihak klub, yang kini lebih berorientasi pada hasil instan di bawah struktur manajemen baru, merasa bahwa progres tim telah stagnan. Target untuk menembus zona Liga Champions terlihat semakin menjauh, yang akhirnya memicu tombol “pecat” ditekan lebih awal dari kontrak aslinya yang seharusnya berakhir pada musim panas 2027.

Darren Fletcher: Penjaga Gawang Sementara

Untuk mengisi kekosongan kursi panas tersebut, manajemen Manchester United kembali menunjuk sosok internal. Darren Fletcher dipercaya sebagai manajer interim untuk menstabilkan kondisi ruang ganti yang dikabarkan sempat terbelah. Fletcher, yang memahami DNA klub luar dalam, diharapkan mampu menjadi jembatan hingga klub menemukan suksesor permanen.

Rumor mengenai siapa pelatih berikutnya sudah mulai liar berhembus. Beberapa nama besar mulai dikaitkan, namun bagi para penggemar, pemecatan Amorim ini kembali menimbulkan pertanyaan besar: Apakah masalahnya ada pada pelatih, atau struktur klub yang belum benar-benar sehat?

Masa Depan Ruben Amorim

Ke mana kaki Amorim akan melangkah setelah ini? Meski gagal di Inggris, reputasi Amorim sebagai salah satu taktik muda terbaik di Eropa belum sepenuhnya luntur. Keberhasilannya membawa Sporting Lisbon juara di Portugal tetap menjadi portofolio yang mengkilap.

Beberapa analis memprediksi ia akan mengambil waktu istirahat sejenak (sabbatical) sebelum kembali ke panggung besar. Liga Italia atau kembali ke pelukan klub-klub besar di Portugal bisa menjadi opsi logis bagi pria berusia 41 tahun tersebut.

Satu hal yang pasti, kepergian Amorim dari Cheshire menandai babak kelam lainnya dalam sejarah pasca-Sir Alex Ferguson. Manchester United kembali memulai dari nol, sementara Amorim pergi membawa pesangon besar dan senyum yang menyiratkan bahwa ia telah memberikan segalanya, meski hasil akhir tak berpihak padanya.


Ada beberapa faktor krusial yang membuat masa jabatan Amorim berakhir prematur:

  1. Kegagalan Sistem Taktis: Sistem 3-4-3 yang ia bawa dari Portugal sering kali dieksploitasi oleh tim-tim Premier League yang bermain dengan intensitas pressing tinggi. Kurangnya bek sayap yang mumpuni untuk memerankan peran wing-back membuat pertahanan MU sering bocor.
  2. Tekanan Media dan Ekspektasi: Menjadi manajer Manchester United adalah pekerjaan tersulit di dunia sepak bola. Setiap hasil imbang dianggap sebagai krisis, dan Amorim tampaknya kesulitan mengelola narasi tersebut di depan media Inggris yang sangat kritis.
  3. Transisi Skuad: Amorim mewarisi skuad yang dibangun oleh beberapa manajer sebelumnya dengan gaya bermain yang berbeda-beda. Menyatukan ego dan gaya main pemain lama dengan visi barunya ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang diizinkan oleh dewan direksi.

Kini, Old Trafford kembali bersiap untuk memulai era baru (lagi). Bagi para pendukung setia, mereka hanya bisa berharap bahwa siapapun yang datang setelah Fletcher, mereka memiliki ketangguhan mental yang lebih kuat untuk menghadapi “kutukan” kursi manajer United.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *