
Jakarta – Peta kekuatan ekonomi global kembali bergejolak di awal Februari 2026. Pada perdagangan Selasa pagi (3/2/2026), pasar keuangan Indonesia terjebak dalam dinamika yang kontradiktif. Di satu sisi, Rupiah mencoba menunjukkan taringnya dengan penguatan tipis di pasar spot, namun di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru harus rela terperosok ke zona merah akibat tekanan jual yang masif.
Kondisi ini menciptakan teka-teki bagi para investor: Apakah penguatan Rupiah hanyalah “technical rebound” sesaat, ataukah fundamental ekonomi domestik memang cukup kuat untuk menahan badai dari Negeri Paman Sam?
Rupiah yang Tangguh di Tengah “Badai” Hawkish
Mata uang Garuda membuka perdagangan Selasa dengan catatan positif. Rupiah terpantau melesat 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.762 per dollar AS. Kenaikan ini sempat memberikan napas lega bagi pasar yang sebelumnya didera kekhawatiran akan pelemahan berkelanjutan.
Namun, di balik angka hijau tersebut, para analis memperingatkan adanya awan mendung yang datang dari Washington. Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menyoroti bahwa posisi Rupiah sebenarnya masih berada dalam tekanan besar. Pemicu utamanya adalah rilis data manufaktur Amerika Serikat yang mencatatkan pertumbuhan paling pesat sejak tahun 2022.
“Data manufaktur AS yang jauh melampaui ekspektasi pasar memperkuat keyakinan bahwa ekonomi mereka masih sangat solid. Hal ini secara otomatis mempersempit ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat,” ungkap Lukman.
Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Raphael Bostic, pejabat Federal Reserve (The Fed) cabang Atlanta, yang baru saja mengumumkan rencana pensiunnya pada akhir Februari 2026. Dalam pernyataan “perpisahannya”, Bostic tetap konsisten bersikap hawkish—menegaskan bahwa kebijakan moneter ketat harus dipertahankan lebih lama demi memastikan inflasi benar-benar jinak.
IHSG Terkapar: Efek Kejut MSCI dan Aksi Jual Asing
Berbeda nasib dengan Rupiah, lantai bursa justru diselimuti mendung tebal. IHSG dibuka melemah ke level 7.895,97, turun 0,34 persen. Tak lama setelah pembukaan, indeks bahkan sempat anjlok lebih dalam hingga menyentuh level terendah di 7.872,57.
Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Pelaku pasar tengah mencerna dua isu besar:
- Sentimen Global: Ketidakpastian arah kebijakan The Fed membuat investor asing cenderung melakukan profit taking di pasar berkembang seperti Indonesia.
- Dinamika Domestik: Adanya pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan perwakilan MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait evaluasi bobot saham Indonesia di indeks global membuat para pengelola dana kakap bersikap lebih hati-hati atau wait and see.
Berdasarkan data BEI, volume transaksi pagi ini mencapai 1,51 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp1,06 triliun. Meskipun terdapat 275 saham yang menguat, dominasi tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) tetap menyeret indeks ke area negatif. Kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp14.214,69 triliun, sebuah angka yang menunjukkan betapa masifnya pergerakan dana di pasar modal Indonesia.
Baca Juga
Guncangan di Pasar Kripto: Efek “Warsh” dan Masa Depan Likuiditas Bitcoin
Prediksi: Menanti Titik Balik di Angka Rp16.850
Para pengamat memprediksi bahwa sepanjang sisa hari ini, Rupiah akan bergerak dalam rentang volatilitas yang cukup lebar, yakni di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.850 per dollar AS. Tekanan pada pasar ekuitas domestik yang masih rentan terhadap arus keluar modal asing (capital outflow) menjadi faktor risiko utama yang dapat membalikkan penguatan tipis Rupiah di pagi hari.
Selain itu, investor juga memantau rilis data neraca perdagangan domestik yang diperkirakan masih mencatatkan surplus namun dengan tren melandai. Sektor komoditas yang selama ini menjadi penopang utama ekspor Indonesia mulai menghadapi tantangan seiring dengan melambatnya permintaan dari beberapa mitra dagang utama.
Strategi Bagi Investor: Waspadai Volatilitas, Incar Saham Bertahan
Dalam situasi pasar yang “gaduh” seperti sekarang, para pakar menyarankan investor untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling). Beberapa poin strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain:
- Diversifikasi ke Aset Aman: Emas tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian suku bunga AS. Harga emas Pegadaian hari ini pun terpantau stabil di kisaran Rp2,9 juta-an per gram, yang bisa menjadi instrumen lindung nilai (hedging).
- Pantau Saham Sektor Konsumsi: Di saat sektor teknologi dan perbankan sensitif terhadap suku bunga, saham sektor konsumsi biasanya lebih defensif menghadapi gejolak pasar.
- Perhatikan Level Support IHSG: Para analis teknikal menyarankan untuk mencermati area support kuat IHSG di level 7.835. Jika level ini tertembus, ada potensi koreksi yang lebih dalam menuju wave berikutnya.
Masa depan ekonomi di tahun 2026 memang diprediksi penuh kompleksitas. Namun, dengan fundamental dalam negeri yang relatif terjaga—seperti yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5%—Indonesia diharapkan mampu melewati fase transisi kebijakan global ini tanpa guncangan yang berarti.
Penutup: Pertarungan antara sentimen positif dari penguatan teknis Rupiah dan sentimen negatif dari hawkish The Fed akan menjadi warna dominan sepanjang pekan ini. Sebagai investor, ketajaman dalam membaca data dan ketenangan dalam mengambil keputusan adalah modal utama agar tetap bisa mendulang cuan di tengah badai volatilitas.