Februari 3, 2026

Memasuki pekan pertama Februari 2026, wajah pasar komoditas berubah total. Hanya dalam hitungan hari, euforia yang membawa emas ke level fantastis $5.594,82 per troy ounce dan perak ke angka $121,64 mendadak sirna. Aksi jual massal (sell-off) yang meletus di akhir Januari terus merembet hingga pembukaan perdagangan hari ini.

Pada sesi perdagangan Senin pagi, harga emas di pasar spot terpantau tertahan di kisaran $4.793,97 per troy ounce, merosot sekitar 1,5 persen. Sementara itu, harga perak yang sempat “terbang” melampaui $100 kini berjuang di level $85,98 per ounce, mencoba rebound setelah sempat terjerembap ke titik terendah dalam tiga pekan terakhir.

Faktor Utama: “Efek Kevin Warsh” dan Manuver Donald Trump

Pemicu utama dari turbulensi ini bukanlah data ekonomi biasa, melainkan langkah politik strategis dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) untuk menggantikan Jerome Powell.

Penunjukan Warsh dianggap sebagai sinyal “Hawkish” (kebijakan moneter ketat) oleh para pelaku pasar. Mengapa hal ini merusak harga emas?

  1. Dolar AS Perkasa: Warsh dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga independensi Fed dan memiliki pandangan tegas terhadap inflasi. Ekspektasi bahwa ia akan mempertahankan suku bunga tinggi atau setidaknya tidak “semurah” Powell membuat indeks Dolar AS melonjak tajam.
  2. Hilangnya Daya Tarik Lindung Nilai: Saat Dolar menguat, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan global menyusut drastis.
  3. Koreksi “Supercycle”: Analis menyebut bahwa reli emas di awal 2026 sudah terlalu jenuh (overbought). Penunjukan Warsh hanyalah jarum yang memecahkan balon spekulasi tersebut.

Kondisi Pasar Domestik: Emas Antam Tembus Rp3 Juta per Gram

Menariknya, meskipun harga emas dunia sedang mengalami koreksi tajam dari puncak tertingginya, harga emas di pasar Indonesia justru menunjukkan anomali yang mengejutkan. Berdasarkan data terbaru per Senin (2/2/2026), harga emas batangan Antam justru dilaporkan meroket hingga menembus level psikologis baru.

Jika pada akhir pekan lalu harga masih berada di kisaran Rp2,86 juta, pagi ini harga emas Antam melonjak menjadi Rp3.027.000 per gram. Fenomena ini disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang cukup signifikan, sehingga harga emas lokal tetap tinggi meski harga spot dunia sedang turun.

Berikut adalah rincian harga emas Antam hari ini:

  • 1 Gram: Rp3.027.000
  • 5 Gram: Rp14.947.275
  • 10 Gram: Rp29.839.413
  • 100 Gram: Rp297.654.280

Perak: Si “Logam Putih” yang Tak Kalah Liar

Perak mencatatkan volatilitas yang jauh lebih ekstrem dibandingkan emas. Sebagai logam yang memiliki fungsi ganda—aset investasi sekaligus bahan baku industri (panel surya dan kendaraan listrik)—perak mengalami tekanan dari dua sisi.

Penurunan harga perak hingga puluhan persen di akhir Januari disebut sebagai salah satu koreksi intraday terbesar dalam sejarah. Banyak trader yang terpaksa melakukan margin call (penutupan posisi paksa) karena harga turun terlalu cepat, yang kemudian justru mempercepat laju penurunan harga itu sendiri.


Analisis: Apakah Ini Waktu yang Tepat untuk Membeli?

Bagi investor jangka panjang, koreksi ini seringkali dipandang sebagai “diskon besar”. Pakar komoditas dari HSBC dan Goldman Sachs tetap optimis bahwa dalam jangka panjang, tren bullish emas belum berakhir. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang tarif yang dilancarkan pemerintahan Trump diprediksi akan terus menjaga permintaan terhadap aset safe haven.

Namun, untuk jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak liar. Investor disarankan untuk memantau proses konfirmasi Kevin Warsh di senat AS serta rilis data inflasi (CPI) mendatang.

Catatan Penting: “Emas tidak pernah kehilangan nilainya, hanya harganya yang sedang mencari pijakan baru di tengah pergeseran kekuasaan ekonomi global.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *