Februari 3, 2026

NEW YORK – Pasar aset digital kembali menghadapi ujian berat di penghujung Januari 2026. Bitcoin (BTC), aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, harus merelakan posisinya di atas angka psikologis 80.000 dollar AS. Pada perdagangan Sabtu (31/1/2026) siang waktu ET, Bitcoin terkoreksi tajam hingga 6,53 persen, menyeret harganya ke level 78.719,63 dollar AS.

Penurunan ini bukanlah sebuah insiden tunggal, melainkan kelanjutan dari tren merah yang sudah dimulai sejak Jumat sebelumnya. Level ini mencatatkan titik terendah baru bagi BTC sejak November 2025, memicu kekhawatiran massal di kalangan trader ritel maupun institusional bahwa reli panjang yang sempat diharapkan pada era pemerintahan Donald Trump mungkin sedang berada di ujung tanduk.

Efek Kevin Warsh: Angin Segar Dolar, Badai Bagi Kripto

Faktor utama di balik kepanikan pasar kali ini bukanlah masalah teknis pada blockchain, melainkan pergeseran arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Penunjukan mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai Ketua The Fed berikutnya menjadi katalis utama menguatnya indeks dolar AS (DXY).

Di mata para pelaku pasar, Warsh bukan sekadar birokrat bank sentral biasa. Ia dikenal sebagai sosok pro-perubahan rezim yang berambisi melakukan “diet ketat” pada neraca keuangan The Fed. Rencana pengurangan neraca (balance sheet reduction) secara agresif ini menjadi sinyal buruk bagi aset spekulatif.

Selama bertahun-tahun, Bitcoin dan ekosistem kripto lainnya tumbuh subur di atas genangan likuiditas yang disediakan oleh The Fed. Ketika bank sentral AS mulai menarik kembali “karpet” likuiditas tersebut, aset-aset berisiko tinggi adalah yang pertama kali merasakan dampak gravitasi.

Likuiditas Terjebak: Antara Wall Street dan Main Street

Brian Jacobsen, Kepala Ekonom di Annex Wealth Management, memberikan pandangan yang menarik mengenai fenomena ini. Menurutnya, kebijakan The Fed selama ini telah menciptakan distorsi ekonomi di mana likuiditas melimpah, namun hanya berputar di koridor Wall Street.

“Neraca The Fed yang membengkak ditambah regulasi perbankan yang kaku membuat aliran dana terkunci di pasar finansial, alih-alih mengalir ke sektor riil atau Main Street,” ujar Jacobsen.

Kondisi inilah yang menurutnya memicu terbentuknya “gelembung” di berbagai instrumen, mulai dari obligasi, logam mulia, saham meme, hingga mata uang kripto. Saat ini, ketika rezim baru di bawah Kevin Warsh bersiap menyedot likuiditas tersebut, gelembung-gelembung ini mulai mengempis. Penurunan Bitcoin di bawah 80.000 dollar AS hanyalah puncak gunung es dari penyesuaian besar-besaran di pasar keuangan global.

Ether dan Altcoins: Terperosok Lebih Dalam

Jika Bitcoin mengalami “batuk-batuk”, maka Ether (ETH) dan koin alternatif lainnya seolah terkena “flu berat”. Ether mencatatkan performa yang jauh lebih mengkhawatirkan dengan anjlok hingga 11,76 persen ke level 2.387,77 dollar AS.

Ketidakmampuan pasar kripto untuk menentukan arah tren sejak kejatuhan tahun lalu kontras dengan performa aset safe haven tradisional. Di saat layar perdagangan kripto membara dengan warna merah, emas dan beberapa sektor saham justru mencatat reli positif, menunjukkan adanya rotasi modal dari aset digital kembali ke aset berwujud yang dianggap lebih aman menghadapi kebijakan moneter ketat.

Baca Juga

Tambang Emas Ilegal: Skandal Rp 992 Triliun yang Mengguncang Indonesia

Harapan Regulasi vs Realita Ekonomi

Ironi dari kejatuhan ini adalah kontradiksi dengan ekspektasi politik. Sebelumnya, banyak investor optimistis bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, akan muncul regulasi yang jauh lebih ramah terhadap industri kripto. Namun, sentimen makroekonomi terbukti lebih perkasa daripada janji politik.

Sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada Oktober 2025, Bitcoin kini telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya. Hal ini menjadi pengingat bagi investor bahwa volatilitas tetap menjadi sifat dasar dari aset digital, terlepas dari seberapa kuat narasi adopsi institusional yang dibangun.

Proyeksi Ke Depan: Tekanan Jual Lanjutan?

Jacobsen memperingatkan bahwa fenomena penyesuaian harga ini bersifat saling memperkuat (self-reinforcing). Artinya, penurunan harga seringkali memicu margin call dan likuidasi paksa yang kemudian menekan harga lebih dalam lagi.

“Penurunan tajam pada Jumat dan Sabtu ini adalah alarm risiko. Sangat mungkin kita akan melihat aksi jual lanjutan dalam beberapa hari ke depan sebelum pasar menemukan titik support yang baru,” tambahnya.

Bagi para investor, minggu pertama Februari 2026 akan menjadi periode krusial. Mata dunia kini tertuju pada pernyataan-pernyataan pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Jika ia mengonfirmasi langkah agresif dalam pengurangan neraca, maka level 75.000 atau bahkan 70.000 dollar AS bagi Bitcoin bukan lagi hal yang mustahil untuk dikunjungi kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *