
INDRAMAYU – Di tengah dinamika mobilitas masyarakat Indonesia yang kian tinggi, kualitas bahan bakar minyak (BBM) sering kali menjadi topik hangat di ruang publik. Menjawab tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui dua garda terdepannya, PT Pertamina Kilang Internasional (KPI) dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), membuka pintu fasilitas mereka di Balongan, Indramayu, untuk menunjukkan bagaimana “dapur” energi Indonesia bekerja.
Dalam rangkaian site visit yang berlangsung pada akhir Januari 2026, Pertamina menegaskan komitmennya: tidak ada satu tetes pun BBM yang keluar ke masyarakat tanpa melewati filter pengawasan yang sangat ketat.
Lebih dari Sekadar RON: Diplomasi 20 Parameter
Masyarakat awam selama ini mungkin hanya akrab dengan istilah Research Octane Number (RON) seperti RON 90 untuk Pertalite atau RON 92 untuk Pertamax. Namun, di laboratorium Integrated Terminal (IT) Balongan, standar kualitas jauh melampaui angka tersebut.
Tester I CFR & Aviation Kilang RU VI Balongan, Zaeturohmah Febriyanti, mengungkapkan bahwa kualitas BBM bukan sekadar angka oktan. Terdapat lebih dari 20 parameter uji yang harus dipenuhi, mencakup karakteristik fisik hingga kandungan kimiawi yang kompleks.
“Laboratorium adalah garda terakhir sekaligus penentu. Kami memastikan kualitas produk sesuai spesifikasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas). Jika satu parameter saja tidak masuk standar, produk tersebut tidak akan pernah melihat jalan raya,” tegas Zaeturohmah saat ditemui di Refinery Unit (RU) VI Balongan, Kamis (29/1/2026).
Sistem Pengawasan Berlapis: Dari Kapal hingga ke SPBU
Proses penjaminan mutu di Pertamina tidak dimulai saat BBM sudah jadi, melainkan sejak bahan baku mentah (crude oil) menyentuh fasilitas pelabuhan. Zaeturohmah mengibaratkan proses ini seperti memasak di dapur rumah tangga yang higienis.
- Uji Bahan Baku: Minyak mentah yang dibawa oleh kapal tangker tidak langsung dialirkan ke unit pengolahan. Petugas laboratorium mengambil sampel untuk memastikan spesifikasi crude sesuai dengan desain kilang.
- Proses Pengolahan: Di dalam unit proses seperti Residual Catalytic Cracking (RCC)—jantung dari kilang Balongan—minyak mentah dipecah menjadi berbagai komponen bahan bakar bernilai tinggi.
- Uji Akhir Produk: Setelah selesai diproses, produk akhir seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, hingga Pertalite kembali masuk ke laboratorium untuk pengujian Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA).
Superintendent Fuel RSD IT Balongan, Firman Nugroho, menambahkan bahwa pengawasan ini bersifat kontinu. “Setiap hari, pengujian laboratorium dilakukan secara rutin. Hal ini guna memastikan mutu produk tetap terjaga selama masa penyimpanan hingga masuk ke tahap distribusi ke mobil tangki,” ujar Firman pada Jumat (30/1/2026).
Baca Juga
IHSG Anjlok 7,35%, BEI Pacu Transparansi Data Demi Jinakkan Kepanikan Pasar
Teknologi dan Kompetensi: Kunci Kepercayaan Konsumen
Menjaga kualitas BBM untuk jutaan kendaraan di Indonesia bukanlah perkara mudah. Fasilitas laboratorium di Balongan telah dilengkapi dengan peralatan mutakhir yang terkalibrasi secara berkala sesuai standar internasional. Selain teknologi, faktor sumber daya manusia menjadi kunci utama. Seluruh personel yang bertugas di laboratorium telah mengantongi sertifikasi kompetensi di bidang pengujian migas.
Metode pengujian yang digunakan pun selalu diperbarui mengikuti standar terbaru dunia, memastikan bahwa BBM produksi dalam negeri mampu bersaing dan aman bagi mesin-mesin kendaraan modern yang kian sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
Mengapa Pengujian Rutin Sangat Penting?
Pengujian rutin setiap hari dilakukan untuk memitigasi risiko kontaminasi selama masa penyimpanan di tangki besar. Faktor lingkungan seperti kelembapan udara dan suhu dapat memengaruhi stabilitas bahan bakar. Dengan pengujian berlapis, Pertamina menjamin bahwa apa yang konsumen beli di SPBU memiliki kualitas yang sama persis dengan saat BBM tersebut baru saja keluar dari unit produksi kilang.
Kilang RU VI Balongan memiliki posisi strategis dalam peta energi nasional. Produk yang dihasilkan di sini merupakan pemasok utama kebutuhan BBM di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat. Ketajaman pengawasan di Balongan secara langsung berdampak pada stabilitas ekonomi dan mobilitas di pusat pemerintahan serta bisnis Indonesia.
Dengan kepastian kualitas yang telah memenuhi standar Dirjen Migas, masyarakat diharapkan tidak perlu ragu dalam menggunakan produk-produk Pertamina. Mulai dari kendaraan pribadi hingga kebutuhan industri, seluruh produk dipastikan aman dan efisien bagi mesin.
Langkah transparansi yang dilakukan Pertamina melalui kunjungan lapangan ini menunjukkan bahwa perusahaan pelat merah tersebut sangat serius dalam menjaga kepercayaan publik. Di balik setiap liter BBM yang menggerakkan roda ekonomi, ada ratusan teknisi dan penguji yang bekerja 24 jam memastikan standar keamanan dan kualitas tetap berada di level tertinggi.
“Kami jamin sesuai spesifikasi. Apa yang kami salurkan adalah janji kualitas kami kepada masyarakat,” tutup Firman Nugroho dengan optimis.