
Raksasa pertambangan dunia, Freeport-McMoRan Inc (FCX), baru saja merilis laporan kinerja tahunan 2025 yang memberikan gambaran suram bagi unit bisnis mereka di Indonesia. PT Freeport Indonesia (PTFI), yang selama ini menjadi “mesin uang” utama FCX, harus menghadapi realitas pahit berupa penurunan tajam produksi tembaga dan emas. Terhentinya operasional di salah satu jantung produksi utama, tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), menjadi biang keladi di balik raport merah ini.
Anomali Kinerja: Ketika Produksi Terjun Bebas
Berdasarkan data resmi yang dihimpun, penurunan produksi emas PTFI sepanjang tahun 2025 mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan, yakni 49,7 persen. Jika pada tahun 2024 perusahaan masih mampu mengeruk 1,86 juta ons emas, angka tersebut menyusut drastis menjadi hanya 937.000 ons di tahun 2025.
Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat pada kinerja kuartal IV (Oktober-Desember) 2025. Produksi emas pada periode tersebut merosot hingga 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan hanya mencatatkan 61.000 ons.
Sektor tembaga pun tidak luput dari tekanan. Produksi tahunan tembaga tercatat sebesar 1,01 miliar pon, turun 44 persen dari capaian 1,8 miliar pon pada 2024. Puncaknya terjadi pada kuartal IV 2025, di mana produksi tembaga anjlok hingga 89 persen, hanya menyisakan 49 juta pon. Penurunan ini mencerminkan betapa vitalnya peran tambang GBC dalam rantai pasok global perusahaan.
Tragedi Alam di Jantung Tambang
Penyebab utama dari defisit produksi ini adalah insiden teknis dan alamiah yang terjadi sejak September 2025. Aktivitas di tambang bawah tanah GBC terpaksa dihentikan total akibat serangkaian insiden longsor dan banjir lumpur. Lokasi GBC yang berada di medan ekstrem Papua memang memiliki tantangan geoteknik yang luar biasa.
FCX menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, infrastruktur bawah tanah ini mampu menyumbang sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun. Absennya kontribusi dari GBC selama hampir satu semester pada 2025 menciptakan lubang besar pada neraca volume penjualan perusahaan. Penjualan tembaga terkoreksi 26,2 persen, sementara emas menyusut 42,2 persen.
Baca Juga
Dollar AS Mulai Lunglai, Namun Rupiah Belum Aman: Mampukah Level Rp 17.000 Terhindari?
Penyelamat: Lonjakan Harga Komoditas Dunia
Meski volume produksi merosot tajam, “napas” keuangan PTFI sedikit terbantu oleh situasi pasar global. Tahun 2025 menjadi tahun di mana harga komoditas logam mulia dan industri mencapai rekor baru.
Realisasi harga emas melonjak drastis sebesar 41,4 persen menjadi 3.418 dollar AS per troy ons. Di saat yang sama, harga tembaga—yang sangat dibutuhkan untuk transisi energi hijau global—naik 8,1 persen menjadi 4,53 dollar AS per pon. Kenaikan harga ini bertindak sebagai bantalan (buffer) yang mencegah penurunan pendapatan perusahaan menjadi lebih dalam lagi. Tanpa lonjakan harga ini, dampak dari terhentinya operasional GBC bisa jauh lebih destruktif bagi profitabilitas FCX secara keseluruhan.
Strategi Rebound 2026: Menatap Semester Kedua
Kabar baik mulai muncul di awal tahun 2026 ini. Manajemen FCX telah menetapkan target optimis untuk memulihkan operasional GBC secara bertahap mulai kuartal II 2026.
Perusahaan memproyeksikan bahwa sekitar 85 persen dari kapasitas produksi normal dapat dipulihkan pada paruh kedua tahun ini. Namun, tahun 2026 tetap akan menjadi tahun transisi yang penuh tantangan. Target penjualan tahunan dipatok pada angka yang cukup konservatif, yakni:
- Tembaga: 0,9 miliar pon.
- Emas: 0,8 juta ons.
Menariknya, struktur penjualan di tahun 2026 akan sangat “berat di belakang”. Sekitar 78 persen penjualan tembaga dan 75 persen penjualan emas diprediksi baru akan terealisasi pada semester II 2026. Ini menunjukkan bahwa paruh pertama tahun ini masih akan diisi dengan upaya pembersihan lahan, perbaikan infrastruktur bawah tanah, dan penguatan aspek keselamatan kerja di area GBC.
Implikasi bagi Penerimaan Negara
Penurunan produksi di Freeport Indonesia tentu menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Indonesia, terutama terkait penerimaan negara dari royalti dan dividen. Sebagai pemegang saham mayoritas (51,2%), pemerintah melalui MIND ID (BUMN Holding Industri Pertambangan) akan merasakan dampak langsung dari penurunan volume penjualan ini.
Meski demikian, para analis meyakini bahwa dengan dimulainya kembali operasional secara penuh pada akhir 2026 dan didukung oleh harga komoditas yang tetap tinggi, PTFI akan kembali menjadi kontributor utama bagi ekonomi nasional pada 2027.
Langkah Freeport untuk memprioritaskan keselamatan dengan menghentikan operasional saat terjadi bencana lumpur adalah keputusan jangka panjang yang tepat. Namun, insiden ini juga menjadi pengingat bagi industri pertambangan global mengenai risiko tinggi operasional tambang bawah tanah di tengah perubahan iklim dan dinamika geologi yang sulit diprediksi.