Januari 11, 2026

JAKARTA – Pasar modal Indonesia mengawali lembaran tahun 2026 dengan torehan tinta emas. Dalam sepekan pertama perdagangannya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya sekadar bergerak hijau, tetapi menunjukkan performa “parabolik” yang memukau para pelaku pasar. Optimisme global yang bersinergi dengan fundamental ekonomi domestik yang kokoh telah membawa indeks ke ambang batas baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Berdasarkan rilis data resmi dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode perdagangan 5 hingga 9 Januari 2026, IHSG tercatat melesat tajam sebesar 2,16 persen. Indeks menutup pekan pertama tahun ini di level 8.936,754, sebuah lompatan signifikan jika dibandingkan dengan posisi penutupan tahun lalu yang berada di angka 8.748,132.

Pecahnya Rekor Historis dan Penembusan Level 9.000

Fenomena yang paling menyita perhatian publik terjadi pada pertengahan pekan. Pada Rabu (7/1/2026), IHSG resmi mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) di posisi 8.944,813. Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Sehari berselang, tepatnya pada Kamis (8/1/2026), pasar sempat gempar ketika indeks menembus level psikologis 9.000 secara intraday, menyentuh titik tertinggi di 9.002,92.

Meski terjadi sedikit aksi ambil untung (profit taking) di akhir pekan yang membuat indeks parkir tipis di bawah 9.000, momentum ini menjadi pesan kuat bagi investor global bahwa pasar saham Indonesia tengah memasuki fase super-cycle baru.

Baca Juga:

Kebangkitan Raksasa Tidur: Saham Blue Chip RI Bangkit!

Lonjakan Volume dan Likuiditas: Pasar yang Semakin “Dalam”

Kenaikan indeks kali ini dinilai sangat berkualitas karena didukung oleh partisipasi aktif dan likuiditas yang melimpah. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, memaparkan data yang menunjukkan lonjakan aktivitas perdagangan yang luar biasa. Peningkatan paling drastis terlihat pada rata-rata volume transaksi harian bursa yang meroket 48,08 persen.

“Volume transaksi melonjak dari 41,72 miliar lembar saham menjadi 61,78 miliar lembar saham hanya dalam satu pekan. Ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari investor ritel maupun institusi,” ungkap Kautsar dalam keterangan resminya pada Sabtu (10/1/2026).

Tak hanya volume, dari sisi nilai juga terjadi perputaran uang yang masif. Rata-rata nilai transaksi harian melesat 44,68 persen menjadi Rp31,45 triliun. Angka ini jauh melampaui rata-rata tahun 2025 yang hanya berkisar di angka Rp21,74 triliun. Frekuensi transaksi pun tak mau kalah, naik 42,74 persen dengan mencatatkan 3,98 juta kali transaksi per hari.

Kapitalisasi Pasar: Menuju Raksasa Regional

Seiring dengan reli harga saham-saham blue chip dan masuknya sejumlah emiten baru melalui IPO di awal tahun, kapitalisasi pasar (market cap) BEI kini mencapai angka fantastis, yakni Rp16.330,877 triliun per Jumat (9/1/2026). Kenaikan market cap ini memperkuat posisi Bursa Efek Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara, menarik lebih banyak dana asing (foreign inflow) yang mencari perlindungan di pasar berkembang yang stabil.

Para analis menilai, ada beberapa faktor pendorong di balik “pesta” awal tahun ini:

  1. Stabilitas Makroekonomi: Angka inflasi yang terkendali dan kebijakan suku bunga yang mulai melandai memberikan napas bagi sektor perbankan dan properti.
  2. Transformasi Digital Emiten: Banyak perusahaan besar yang mulai memetik hasil dari investasi teknologi mereka selama dua tahun terakhir, yang kini tercermin dalam laporan laba bersih.
  3. Sentimen Komoditas: Harga komoditas strategis yang tetap stabil di pasar global turut menopang saham-saham sektor energi dan pertambangan di tanah air.

Memasuki pekan kedua Januari, para pelaku pasar diperkirakan akan lebih selektif. Setelah kenaikan yang cukup agresif, konsolidasi wajar kemungkinan akan terjadi. Namun, selama IHSG mampu bertahan di atas level dukungan (support) 8.850, peluang untuk kembali menguji level 9.000 tetap terbuka lebar.

Investor disarankan untuk tetap memperhatikan rilis data ekonomi domestik terbaru serta pergerakan indeks bursa global. Partisipasi investor domestik yang kini semakin dominan juga menjadi “bantalan” yang kuat jika sewaktu-waktu terjadi guncangan eksternal.

Optimisme di awal 2026 ini bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan refleksi dari ketangguhan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika global. Dengan kapitalisasi pasar yang terus membengkak dan minat investasi yang berada di titik tertinggi, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang sangat menguntungkan bagi para pemegang aset di pasar modal tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *