Januari 11, 2026

LONDON – Pekan lanjutan Liga Inggris yang mempertemukan dua raksasa, Arsenal dan Liverpool, di Emirates Stadium pada Jumat (9/1/2026) berakhir dengan antiklimaks bagi para pemburu gol. Skor kacamata 0-0 menjadi hasil akhir yang adil, namun menyimpan cerita mendalam tentang evolusi taktik dan kelemahan kronis yang mulai terendus dari skuad The Reds di bawah komando Arne Slot.

Laga ini bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan ujian bagi filosofi “Slot-ball” yang mengedepankan kontrol bola melawan pragmatisme tingkat tinggi yang diterapkan Mikel Arteta. Meskipun Liverpool pulang membawa satu poin, hasil ini mempertegas jarak kualitas dan kedewasaan taktik antara kedua tim di tabel klasemen.

Dominasi Tanpa Taji: Statistik yang Menipu

Sepanjang 90 menit laga berjalan, Liverpool sejatinya memegang kendali permainan. Statistik mencatat Mohamed Salah dan kolega menguasai 53 persen aliran bola, memaksa Arsenal untuk lebih banyak bertahan di area sendiri. Namun, penguasaan bola tersebut terbukti menjadi dominasi semu.

Dari tujuh percobaan tembakan yang dilepaskan para pemain Liverpool, tidak ada satu pun yang benar-benar menguji David Raya di bawah mistar gawang The Gunners. Angka nol tembakan tepat sasaran (shot on target) adalah noda besar bagi tim yang biasanya dikenal sangat produktif di lini depan.

Sebaliknya, Arsenal bermain dengan efisiensi yang mengerikan. Meski hanya menguasai 47 persen bola, tim Meriam London berhasil menciptakan delapan peluang, di mana empat di antaranya memaksa Alisson Becker bekerja keras melakukan penyelamatan krusial. Strategi “biarkan mereka menguasai bola, tapi jangan biarkan mereka masuk” milik Arteta bekerja dengan sempurna.

Pengakuan Jujur Arne Slot: Titik Lemah yang Berulang

Pasca-pertandingan, manajer Liverpool, Arne Slot, tidak mencoba menutupi kekurangan timnya dengan retorika manis. Dalam sesi wawancara dengan BBC, manajer asal Belanda itu memberikan pengakuan jujur yang cukup mengejutkan mengenai keterbatasan taktiknya saat ini.

“Saya sudah mengatakan 150 kali bahwa melawan gaya bermain tertentu, kami adalah tim yang sangat bagus, dan melawan gaya bermain tertentu kami kesulitan,” ujar Slot dengan nada frustrasi yang terukur.

Slot menyoroti bagaimana timnya seolah kehilangan ide saat menghadapi lawan yang memasang blok pertahanan rendah (low block) dan rapat. “Hari ini orang-orang mungkin bersikap positif karena kami menguasai bola begitu lama, tetapi kenyataannya, melawan pertahanan rapat Arsenal pun kami tetap kesulitan menciptakan peluang nyata. Inilah alasan mengapa kami tertinggal begitu banyak poin dari mereka di klasemen,” tambahnya.

Komentar Slot mengacu pada posisi Liverpool yang kini tertahan di urutan keempat dengan 35 poin, tertinggal jauh 14 angka dari Arsenal yang perkasa di puncak klasemen dengan 49 poin.

Baca Juga:

Bara Derby Madrid di Padang Pasir: Misi Xabi Alonso Menuju El Clasico Final

Analisis Taktik: Mengapa “Low Block” Jadi Mimpi Buruk?

Masalah yang dihadapi Liverpool musim ini tampaknya berakar pada transisi dari gaya heavy metal football ala Jurgen Klopp ke gaya kontrol yang lebih metodis ala Slot. Di bawah Klopp, Liverpool mengandalkan kekacauan (chaos) dan transisi cepat untuk membongkar pertahanan lawan. Namun, di bawah Slot, tim lebih sabar dalam membangun serangan.

Sabar bukan berarti selalu efektif. Saat menghadapi tim dengan organisasi pertahanan sekokoh Arsenal—yang dikomandoi oleh William Saliba dan Gabriel Magalhaes—kecepatan aliran bola menjadi kunci. Sayangnya, di Emirates, aliran bola Liverpool cenderung lambat dan mudah terbaca. Penjagaan ketat terhadap Luis Diaz dan Mo Salah membuat lini depan Liverpool terisolasi dari suplai bola di sepertiga akhir lapangan.

Arsenal sendiri tampak sengaja memberikan ruang di tengah lapangan agar Liverpool merasa nyaman menguasai bola, namun begitu bola mendekati kotak penalti, ruang-ruang tersebut tertutup rapat. Ini adalah jebakan taktis yang sering kali membuat tim dengan penguasaan bola tinggi justru frustrasi dan melakukan kesalahan sendiri.

Hasil imbang ini memberikan dampak yang berbeda bagi kedua tim. Bagi Arsenal, satu poin di kandang tetap menjaga martabat mereka sebagai pemuncak klasemen sementara. Dengan koleksi 49 poin, mereka masih unggul aman enam angka dari Manchester City yang terus membayangi di posisi kedua.

Bagi Liverpool, hasil ini adalah pengingat keras bahwa untuk menjadi penantang gelar juara, menguasai bola saja tidak cukup. Mereka harus menemukan cara untuk “membuka kaleng sarden” saat lawan memilih bermain bertahan total. Tanpa inovasi di lini tengah dan kreativitas dari pemain seperti Alexis Mac Allister atau Dominik Szoboszlai untuk melakukan penetrasi dari lini kedua, Liverpool berisiko terlempar dari persaingan empat besar mengingat persaingan dengan tim-tim seperti Chelsea dan Newcastle semakin memanas.

Arne Slot memiliki pekerjaan rumah yang besar di bursa transfer atau di lapangan latihan. Memperbaiki penyelesaian akhir dan kreativitas melawan tim defensif adalah harga mati. Jika tidak, dominasi di lapangan hanya akan berakhir dengan angka nol di papan skor.

Pertandingan selanjutnya akan menjadi ujian apakah Slot mampu menerapkan perubahan yang ia janjikan. Publik Anfield tentu berharap bahwa pengakuan “150 kali” tersebut segera berakhir dengan solusi nyata, bukan sekadar keluhan yang berulang di setiap konferensi pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *