
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengakhiri kalender perdagangan tahun 2025 dengan catatan yang dramatis. Di tengah fluktuasi global yang menantang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memenangkan pertarungan melawan sentimen negatif di menit-menit terakhir menjelang lonceng penutupan berbunyi.
Pada perdagangan Jumat (31/12/2025), IHSG ditutup merayap naik ke zona hijau, bertengger di level 8.646,94. Meski kenaikannya tergolong tipis, yakni hanya 2,68 poin atau 0,03 persen, kemenangan ini memiliki makna simbolis yang kuat bagi optimisme investor menyongsong tahun baru.
Perjalanan “Roller Coaster” di Sesi Terakhir
Pasar modal Indonesia tidak mendapatkan kemenangan ini dengan mudah. Sejak pembukaan pagi, tekanan jual sempat mendominasi lantai bursa. IHSG dibuka memerah di level 8.627,40 dan bahkan sempat terjerembap ke level terendah harian di 8.584,87.
Penurunan tajam di sesi pertama sempat memicu kekhawatiran akan adanya aksi ambil untung (profit taking) besar-besaran di akhir tahun. Namun, kekuatan daya beli domestik terbukti tangguh. Menjelang penutupan sesi kedua, arus modal mulai kembali masuk, mendorong indeks hingga sempat menyentuh titik tertinggi di 8.663,67 sebelum akhirnya stabil di level penutupan.
Bedah Sektor: Konsumsi dan Infrastruktur Jadi Pahlawan
Kemenangan tipis IHSG kali ini merupakan hasil kerja keras dari beberapa sektor kunci yang tampil perkasa. Sektor barang konsumen siklikal menjadi bintang utama dengan lonjakan tajam sebesar 3,03 persen. Hal ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi belanja masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2026.
Tak kalah mentereng, sektor infrastruktur juga melaju solid dengan kenaikan 2,04 persen, disusul oleh sektor keuangan yang menguat 0,97 persen. Penguatan sektor perbankan (keuangan) dianggap sebagai sinyal kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional yang tetap terjaga meskipun suku bunga global masih berada di level yang tinggi.
Berikut adalah ringkasan kinerja sektoral pada penutupan perdagangan 2025:
| Sektor | Performa (%) | Status |
| Konsumsi Siklikal | +3,03% | Pemimpin Pasar |
| Infrastruktur | +2,04% | Menguat Tajam |
| Keuangan | +0,97% | Penopang Bobot Indeks |
| Kesehatan | -1,53% | Terkoreksi Terdalam |
| Bahan Baku | -1,17% | Melemah |
Di sisi lain, sektor kesehatan dan bahan baku harus rela menjadi pemberat langkah indeks. Sektor kesehatan terkoreksi paling dalam hingga 1,53 persen, mencerminkan adanya rotasi modal investor keluar dari saham-saham defensif menuju saham-saham yang lebih sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Selengkapnya:
Mengapa Baht dan Ringgit Mendominasi Asia di Penghujung 2025?
Likuiditas Tinggi di Tengah Kapitalisasi yang Moncer
Aktivitas perdagangan di hari pamungkas ini menunjukkan bahwa minat investasi masyarakat Indonesia tetap membara. Volume transaksi mencapai 38,75 miliar lembar saham dengan nilai putaran uang menembus Rp 20,00 triliun. Frekuensi perdagangan yang mencatatkan angka 2,58 juta kali transaksi mempertegas bahwa pasar modal kita sangat likuid.
Angka yang paling mencolok adalah total kapitalisasi pasar (Market Cap) BEI yang kini mencapai Rp 15.878,57 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, memposisikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan pasar modal utama di Asia Tenggara.
Analisis Pengamat: Apa yang Menanti di 2026?
Keberhasilan IHSG menutup tahun di level 8.600-an bukan sekadar angka. Ini adalah cerminan dari ketahanan ekonomi makro Indonesia. Meski sektor teknologi masih terkontraksi (turun 0,98 persen) akibat penyesuaian valuasi, namun dominasi sektor riil seperti infrastruktur dan konsumsi memberikan bantalan yang cukup bagi pasar.
Banyak analis memprediksi bahwa pada tahun 2026, fokus pasar akan bergeser pada implementasi kebijakan ekonomi pemerintah baru dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menjaga inflasi. Jika tren penguatan sektor konsumsi terus berlanjut, IHSG memiliki peluang besar untuk menembus level psikologis baru di angka 9.000 pada kuartal pertama tahun depan.
Sebanyak 346 saham yang menguat dibandingkan 317 saham yang melemah menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sedang berada dalam kondisi “bullish” tipis. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan saham-saham dengan fundamental kuat dan rutin membagikan dividen, mengingat volatilitas pasar global diprediksi masih akan mewarnai awal tahun 2026.
Dengan penutupan ini, Bursa Efek Indonesia membuktikan bahwa meskipun diterjang badai fluktuasi harian, stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang tetap menjadi narasi utama pasar modal tanah air. Selamat menyambut tahun baru dengan strategi investasi yang lebih matang!