Januari 11, 2026

BANGKOK – Peta kekuatan ekonomi Asia Tenggara mengalami pergeseran dramatis saat kalender mendekati penutupan tahun 2025. Fenomena menarik terjadi di pasar valuta asing, di mana Dollar AS (USD) yang biasanya perkasa justru tampak tak berdaya menghadapi terjangan mata uang regional, khususnya Baht Thailand dan Ringgit Malaysia. Namun, di balik angka-angka penguatan tersebut, tersimpan drama kebijakan, lonjakan komoditas, dan intervensi pasar yang masif.

Dominasi Dua Kuda Hitam: Baht vs Ringgit

Sepanjang tahun 2025, perdebatan mengenai siapa “jawara” mata uang Asia terus bergulir. Sejumlah analis menempatkan Ringgit Malaysia sebagai yang terbaik berkat reformasi fiskal domestik dan stabilnya harga minyak. Namun, data terbaru per pekan terakhir Desember 2025 menunjukkan Baht Thailand mengambil alih panggung utama.

Menurut laporan terbaru, Baht telah mencatatkan penguatan fantastis sekitar 10 persen sepanjang tahun kalender 2025. Angka ini membawa Baht menyentuh level terkuatnya dalam lebih dari empat tahun terakhir terhadap Greenback. Penguatan ini bukan sekadar fenomena teknis, melainkan akumulasi dari melemahnya tekanan inflasi di AS serta daya tarik aset-aset berbasis pasar berkembang (emerging markets).

Teka-Teki Emas: “Doping” bagi Mata Uang Gajah Putih

Ada faktor unik yang membedakan penguatan Baht dengan mata uang lainnya di kawasan: Booming Perdagangan Emas. Thailand memiliki keterikatan historis dan kultural yang sangat kuat dengan emas, baik sebagai investasi maupun perhiasan. Sepanjang 2025, harga emas global yang fluktuatif namun cenderung tinggi memicu volume transaksi yang luar biasa di Thailand.

Gubernur Bank of Thailand (BoT), Vitai Ratanakorn, dalam pernyataannya pada 23 Desember 2025, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyebutkan bahwa korelasi antara transaksi emas dan nilai tukar Baht telah mencapai titik yang tidak sehat bagi fundamental ekonomi. Ketika pedagang emas lokal mengekspor atau melakukan lindung nilai (hedging) dalam skala besar melalui platform online, terjadi konversi mata uang asing ke Baht dalam volume raksasa yang mendorong nilai tukar meroket secara artifisial.

“Penguatan ini sudah tidak selaras dengan fundamental ekonomi kita yang sebenarnya,” ujar Ratanakorn. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Baht yang terlalu perkasa akan menghantam daya saing ekspor Thailand—tulang punggung ekonomi negara tersebut.

Baca Selengkapnya:
Logam Mulia vs Emas Digital: Mengapa Emas Meroket 70% Saat Bitcoin Terpuruk di Akhir 2025?

Respons Tegas Pemerintah dan Bank Sentral

Pemerintah Thailand tidak tinggal diam melihat “anomali” ini. Kementerian Keuangan, melalui pejabatnya Lavaron Sangsnit, memberikan sinyal kuat bahwa mereka sedang mengkaji pengenaan Pajak Bisnis Khusus untuk perdagangan emas online. Langkah ini diambil guna mendinginkan spekulasi yang berlebihan di pasar emas yang selama ini menjadi katalis penguatan Baht.

Tak hanya pajak, otoritas moneter juga mempertimbangkan pembatasan volume transaksi bagi pedagang emas skala besar. Puncaknya terjadi pada 26 Desember 2025, di mana Bank of Thailand melakukan intervensi pasar secara “agresif”. Meskipun Ratanakorn menegaskan bahwa intervensi tersebut bertujuan untuk meredam volatilitas dan bukan untuk mematok level tertentu, langkah ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa pemerintah tidak akan membiarkan Baht menguat tanpa kendali.

Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas bahkan secara terbuka menyebutkan bahwa Baht yang terlalu kuat bersifat “merugikan” (counter-productive) bagi sektor pariwisata dan manufaktur yang baru saja pulih sepenuhnya pasca-pandemi.

Faktor Global: Melemahnya Dollar dan Arus Modal Masuk

Selain faktor domestik seperti emas, penguatan mata uang Asia juga didorong oleh faktor eksternal yang seragam. Melemahnya indeks Dollar AS menjadi berkah bagi mata uang regional. Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve di pengujung tahun membuat investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar Asia.

Selain itu, Thailand mencatatkan surplus transaksi berjalan yang sangat solid. Kembalinya jutaan turis mancanegara sepanjang 2025 telah memperkuat cadangan devisa negara tersebut, memberikan bantalan yang cukup bagi Baht untuk terus melaju, meskipun pemerintah berupaya melakukan pengereman.

Proyeksi Memasuki 2026

Bagi para pengamat ekonomi, dinamika di akhir 2025 ini memberikan pelajaran berharga: nilai tukar mata uang tidak hanya mencerminkan kesehatan ekonomi, tapi juga kompleksitas interaksi antara komoditas dan kebijakan digital.

Ringgit Malaysia diperkirakan akan tetap stabil berkat arus investasi langsung asing (FDI) yang konsisten di sektor teknologi, sementara Baht akan terus “bergulat” dengan bayang-bayang harga emas. Bagi pelaku bisnis di Asia Tenggara, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun penyesuaian di mana bank-bank sentral regional harus lebih lihai menyeimbangkan antara apresiasi nilai tukar dan perlindungan sektor ekspor.

Kisah sukses Baht dan Ringgit di tahun 2025 adalah pengingat bahwa Asia bukan lagi sekadar pengikut tren global, melainkan pemain aktif yang mampu menciptakan dinamika pasarnya sendiri, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *