
Bulan November 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai periode duka mendalam bagi Pulau Sumatera. Serangkaian bencana hidrometeorologi, berupa banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh intensitas hujan ekstrem dan diperburuk oleh dampak tidak langsung Siklon Tropis KOTO, telah meluluhlantakkan sebagian besar wilayah di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Hingga data terakhir yang dirilis pada Sabtu (29/11/2025) malam, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi krisis yang mengkhawatirkan. Angka korban jiwa yang semula dilaporkan di kisaran puluhan telah melonjak drastis. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, total korban meninggal dunia di tiga provinsi terdampak telah mencapai 174 jiwa, dengan 79 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan harta benda mereka yang kini terendam lumpur dan puing.
đ Tiga Provinsi dalam Cengkeraman Bencana
Dampak bencana ini tersebar luas dan melumpuhkan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Aceh telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, menunjukkan betapa parahnya situasi yang dihadapi.
1. Sumatera Utara: Episentrum Kerusakan Infrastruktur
Sumatera Utara menjadi wilayah yang paling parah terdampak, mencatatkan korban jiwa tertinggi. Bencana terjadi serentak di sejumlah kabupaten/kota. Kabupaten yang menjadi sorotan utama adalah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Humbahas, dan Padangsidimpuan.
Di Tapanuli Selatan, misalnya, ribuan warga harus mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir bandang. Namun, kerusakan terberat ada pada infrastruktur. Laporan dari tim gabungan menyebutkan adanya aspal yang retak, jalan yang terbelah, hingga jembatan yang putus total di beberapa titik vital. Kota Sibolga, dilaporkan sempat terisolasi sepenuhnya. Di Kabupaten Tapanuli Utara, jembatan yang menjadi akses utama terputus, mengganggu mobilisasi warga dan memperlambat penyaluran bantuan logistik.
BPBD Sumut mencatat 116 korban jiwa meninggal dunia dan 42 orang masih hilang di provinsi ini, sebuah angka yang terus bergerak seiring upaya pencarian yang terhambat oleh akses yang sulit ditembus.
2. Sumatera Barat: Luasan Dampak yang Mengkhawatirkan
Di Sumatera Barat, dampak bencana tercatat lebih meluas secara geografis, mencakup hingga 14 kabupaten/kota. Daerah terdampak meliputi Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, dan Tanah Datar.
Padang Pariaman, Solok, dan Tanah Datar menjadi wilayah yang paling terpukul. Laporan dari otoritas setempat menyebutkan total korban meninggal di Sumbar mencapai 23-26 jiwa dan 12 orang hilang. Di Tanah Datar, misalnya, kawasan Nagari Padang Laweh Malalo dan Nagari Guguak Malalo di Kecamatan Batipuh Selatan hancur total, memaksa penyaluran bantuan dilakukan melalui jalur perairan. Bencana ini tidak hanya merusak rumah warga tetapi juga fasilitas publik dan mengganggu sistem jaringan telekomunikasi.
3. Aceh: Pencarian Korban yang Terus Berlangsung
Di Serambi Mekkah, banjir bandang melanda puluhan kabupaten/kota, termasuk wilayah yang sulit dijangkau seperti Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Pidie, Aceh Besar, dan Lhokseumawe.
BNPB mencatat di Aceh, 35 jiwa meninggal dunia dan 25 orang masih hilang, dengan korban terbanyak berasal dari Bener Meriah dan Aceh Tengah. Wilayah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah saat ini tidak dapat diakses melalui jalur darat karena kerusakan total pada jalan nasional dan jembatan. Akibatnya, jalur udara dengan memanfaatkan Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele Bener Meriah menjadi alternatif utama untuk mengirimkan bantuan dan melakukan evakuasi.
đ Mengapa Bencana Semakin Parah? Mencari Akar Masalah
Meskipun cuaca ekstrem dan Siklon Tropis KOTO menjadi pemicu langsung bencana, para ahli dan pegiat lingkungan menyoroti faktor lain yang memperparah dampak: kerusakan ekosistem dan deforestasi.
Laporan menyebutkan bahwa bencana banjir bandang di beberapa titik, terutama di sekitar ekosistem Batang Toru di Sumut, diwarnai dengan hanyutnya material berat seperti batu dan kayu gelondongan. Hal ini mengindikasikan adanya degradasi lingkungan yang serius, termasuk aktivitas pertambangan mineral dan pembalakan liar yang membabat kawasan hutan hujan tropis.
Kerusakan tutupan hutan menyebabkan daya serap air tanah menurun drastis. Ketika hujan deras mengguyur, tanah tidak mampu menahan limpasan air, memicu erosi, dan mengubah banjir biasa menjadi banjir bandang yang menghancurkan.
đ Fokus Utama: Evakuasi, Akses, dan Logistik
Menanggapi bencana ini, fokus utama tim gabungan saat ini adalah:
- Evakuasi dan Pencarian Korban Hilang: Memaksimalkan upaya SAR di wilayah yang masih terisolasi, termasuk dengan pengerahan alat berat untuk membuka akses.
- Pemulihan Akses: Berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera memulihkan jalan nasional dan jembatan yang terputus, memastikan mobilitas bantuan logistik.
- Penyaluran Bantuan: Memastikan bantuan darurat, seperti paket sembako, hygiene kit, dan obat-obatan, dapat mencapai puluhan ribu pengungsi di titik-titik krisis.
Duka yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat ini adalah pengingat keras akan pentingnya tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Proses pemulihan akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, namun prioritas saat ini adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan bantuan menjangkau seluruh korban yang terdampak.