
LIVERPOOL — Anfield, stadion yang dikenal keramat dan penuh keajaiban comeback, kini menjadi saksi bisu dari periode terkelam Liverpool dalam lebih dari tujuh dekade. Kekalahan memalukan 1-4 dari PSV Eindhoven di Matchday 5 Liga Champions pada Kamis (27/11/2025) dini hari WIB bukan sekadar hasil buruk; itu adalah puncak dari serangkaian bencana yang mengancam kredibilitas tim dan masa depan manajer Arne Slot.
Kekalahan telak ini memiliki implikasi historis yang mengerikan: Liverpool untuk pertama kalinya sejak Desember 1953 menelan tiga kekalahan beruntun dengan selisih tiga gol atau lebih. Artinya, dibutuhkan 72 tahun bagi The Reds untuk mengulangi catatan buruk yang terakhir terjadi ketika klub itu masih berkompetisi di Divisi Dua Liga Inggris.
Aib Tiga Kali Pembantaian Beruntun
Musim 2025/2026 yang seharusnya menjadi pembuktian bagi era baru di bawah Arne Slot justru berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Rangkaian kekalahan telak ini dimulai dari Liga Inggris dan kini merambat ke kompetisi Eropa:
- Manchester City 3-0 Liverpool (Tandang, Liga Inggris): Kekalahan tandang yang menyakitkan dari rival utama.
- Liverpool 0-3 Nottingham Forest (Kandang, Liga Inggris): Pukulan telak di Anfield yang tak termaafkan oleh para penggemar.
- Liverpool 1-4 PSV Eindhoven (Kandang, Liga Champions): Titik terendah, dengan kekalahan terbesar musim ini.
Melawan PSV, Liverpool memang sempat menunjukkan secercah harapan. Setelah kebobolan cepat melalui penalti yang dieksekusi oleh veteran Ivan Perisic di menit ke-15, The Reds berhasil menyamakan kedudukan lewat tendas keras Dominik Szoboszlai pada menit ke-28. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, memberikan ilusi bahwa Liverpool mampu mengendalikan badai.
Namun, babak kedua adalah kehancuran total. Pertahanan Liverpool yang rapuh dibongkar habis oleh kecepatan dan efektivitas serangan balik PSV. Gelandang enerjik Guus Til mencetak gol kedua PSV di menit ke-63, memanfaatkan kebingungan di lini belakang The Reds.
Penderitaan Liverpool semakin menjadi-jadi oleh Couhaib Driouech, winger lincah PSV. Ia mencetak dua gol cepat di menit ke-75 dan ke-83, yang tak hanya mengunci kemenangan 4-1 bagi tim tamu, tetapi juga menambah selisih gol pembantaian bagi Liverpool. Kegagalan Alisson Becker dan lemahnya pressing lini tengah Liverpool di dua gol terakhir menjadi sorotan utama.
Statistik Horor yang Mengguncang Sejarah Klub
Kekalahan ini juga memperpanjang catatan statistik yang sangat mengkhawatirkan dan secara terang-terangan menunjuk pada krisis struktural di klub:
- 9 Kekalahan dari 12 Laga: Sejak periode November 1953 hingga Januari 1954, Liverpool belum pernah menelan sembilan kekalahan dalam 12 pertandingan berturut-turut di semua kompetisi. Statistik ini membawa para penggemar kembali ke era pra-Bill Shankly, sebuah masa yang ingin dilupakan.
- Pertahanan Terburuk di Liga Champions: Liverpool kini menjadi salah satu tim dengan rekor kebobolan terburuk di fase liga Liga Champions, menunjukkan bahwa masalah mereka bukan hanya di sektor penyerangan.
- Anfield Kehilangan Aura Magis: Kalah 0-3 dari Forest dan 1-4 dari PSV menunjukkan bahwa Anfield tidak lagi menjadi benteng yang menakutkan bagi lawan.
Slot di Bawah Tekanan Eksponensial
Semua mata kini tertuju pada Arne Slot. Pelatih asal Belanda ini datang dengan ekspektasi tinggi untuk mempertahankan standar yang ditinggalkan oleh pendahulunya, Jurgen Klopp. Namun, performa tim yang merosot tajam menimbulkan keraguan besar.
Banyak kritik yang mengarah pada kegagalan Slot dalam menemukan keseimbangan antara filosofi menyerang yang ia bawa dengan kekuatan pertahanan tim. Pergantian taktik yang dinilai terlalu sering dan beberapa keputusan starting eleven yang kontroversial, seperti memaksakan beberapa pemain di luar posisi terbaik mereka, dituding sebagai biang keladi krisis ini.
“Kami tidak bermain sebagai satu unit. Ada terlalu banyak ruang antara lini tengah dan pertahanan,” ujar seorang pandit legendaris Liverpool, yang meminta agar klub segera melakukan introspeksi mendalam, tidak hanya di bangku pelatih tetapi juga di ruang ganti pemain.
Laporan terbaru dari media-media Inggris menyebutkan bahwa manajemen Liverpool, yang dikenal sangat sabar dan suportif, mulai mengadakan pertemuan darurat. Meskipun posisi Slot belum berada di ujung tanduk—mengingat investasi dan komitmen jangka panjang kepadanya—tekanan dari suporter dan legenda klub semakin tak tertahankan.
Mantan pemain Liverpool, Jamie Carragher, secara terbuka menyatakan bahwa tim saat ini bermain tanpa semangat dan gairah, dua hal yang menjadi ciri khas tim Merseyside selama bertahun-tahun. “Ini bukan hanya tentang kekalahan, ini tentang cara kami kalah,” tegasnya. “Tidak ada perlawanan, tidak ada karakter.”
Masa Depan yang Tergantung di Ujung Tanduk
Hasil memalukan ini menempatkan Liverpool dalam posisi yang sangat sulit di Liga Champions. Meskipun mereka masih memiliki peluang matematis untuk lolos, moral tim dan kepercayaan diri pemain berada di titik terendah. Tugas Slot kini tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga mengembalikan identitas klub yang seolah hilang ditelan bumi.
Desakan untuk melakukan perombakan besar di jendela transfer Januari semakin menguat. Tim ini jelas membutuhkan energi baru dan pemain-pemain yang siap bertarung, bukan hanya yang berbakat. Jika tren negatif ini terus berlanjut, Liverpool berisiko kehilangan kesempatan untuk bersaing di papan atas Liga Inggris dan terlempar dari kompetisi Eropa di fase awal, sebuah skenario yang tak terpikirkan di awal musim.